Santai
kaya di pantai
Life,
atau hidup, mungkin sebagian besar
bahkan aku sendiri tidak tau apa itu hidup. Ada yang bilang hidup untuk makan
apa makan untuk hidup. Mau pilih yang definisi yang mana semua ada ditangan kalian lebih tepatnya ada
di otak kalian. Banyak yang bilang hidup itu berat jadi hanya orang-orang “tertentu”
yang bisa survife di bumi ini. aku beri
tanda kutip kata tertentu, yaa hanya orang yang berakal sehat yang bisa hidup
dengan kehidupannya. Mungkin dari seratus orang yang benar-benar berakal hanya
satu, aku tidak masuk dari satu orang itu. Duluuu.
Memang
benar hidup itu sangat berat, cadas secadas batu karang dilautan bahkan lebih
cadas lagi, sudah tidak bisa digambarkan lagi kata-kata. Apalagi membayangkan
kehidupanku mulai dari kecil dibalut dengan duka dan air mata yang diselimuti oleh kemiskinan yang mendera tiada
tara. Hanya orang yang mempunyai hati sekuat baja yang dapat bertahan. Ya
bertahan. Bertahan menghadapi berbagai macam perasaan. Kiranya memang benar
yang diucapkan oleh manusia paling sempurna Sang Ufuqil ‘ula Nabi Muhammad SAW,
jika hati ini baik maka semua anggota tubuh akan baik.
Berangkat dari nasihat beliau, aku bergumam
bodohnya aku, sangat bodoh mungkin aku menjadi manusia paling bodoh. Tapi dari
setiap keadaan terpuruk selalu ada hal yang patut di syukuri. Aku menemukan
sesuatu bukan sesuatu lagi malah, hal paling besar dan berpengaruh dalam
hidupku. Pemegang hidupku. Teringat sebuah perjalanan nabi Ibrahim AS dalam
mencari tuhan. Apakah matahari tuhan tapi saat malam ia padam. Apakah bulan tapi saat siang ia pun
sirna. Akhirnya ia tersadar tuhannya bukan dimana-mana tapi terletak di
hatinya. Ia begitu dekat tak terhingga lagi dekatnya bahkan lebih dekat dari
urat nadinya. Apakah logika manusia bisa mencapai pengertian itu. Tidak sangat
susah. Karena percaya pada Allah bukan dengan logika. Tapi dengan hati,
sanubari bari yang bersih dari sampah-sampah penghambaan terhadap dunia.Bagi
kaum rasionalis mungkin doktrin semacam ini tidak akan diterima.
Aku
dulu begitu khawatir. Mengkhawatirkan segalanya. Bahkan kematian yang sudah
jelas waktunya. Barangsiapa meneganal Rabbnya maka akan mengenal dirinya.
Kalimat itulah yang sering diulang-ulang oleh ustdazku ketika mengaji subuh,
lebih tepat mengkaji sebuah kitab, kitab kuning kita menyebutnya, kenapa kitab kuning karena memang warna kertasnya kuning.
Esensinya sama dengan kitab yang dicetak dengan kertas putih bahkan kitab
tertulis dibatu sekalipun. Kitab Fathul Mungin, sebuh kitab fiqh kecil yang
begitu terasa berat bagiku. Saking beratnya sampai aku sering tertidur,bahkan
meniatkan untuk duduk ditempat yang strategis untuk melanjutkan mimpi yang
sempat tertunda akibat gedoran pintu kamar dari Pak Kyai kami. Kyai yang begitu
kami sayangi, yang selalu mengjarkan tentang keikhlasan dalam melakukan semua
pekerjaan. Nasihatnya selalu terngiang-ngiang indah “ingat yaa anak-anak bapak
ngaji terus dimanapun Al-Quran selalu dibaca”. Kita (santri bapak) “Nggih
Pak”. Ntah nggih dari hati atau dari mulut saja. Harapan dari mulut bisa
turun kehati.
Mungkin
dari kita sudah banyak memakan kitab dan menghafal Al-Quran, tapi pertanyaan terbesar sudahkah
kita benar-benar mengenal tuhan kita, iya tuhan kita Allah Subhauta’ala. Raja
dari segala raja, tempat meminta semuanya. Yang lebih sayang dari ibu kita,
percaya tidak? Susah yaa? Dulu aku juga berfikir seperti itu. Masa si? Masa
iya? Kok bisa? Ada jutaan pertanyaan diotaku? Seiringnya berjalan waktu
akhirnya aku menemukan jawabannya. Mungkin di lain kesempatan akan aku ceritakan
bagaimana aku menemukan Allah yang
hilang. Hilang dari hatiku. Kiranya memang sangat benar manusia harus belajar
mulai dari buaian sampai kematian.
Kembali
kepernyataan diatas. Hidup itu berat. Berat bagi yang tidak mengenal Rabbnya
dan hanya orang-orang yang bodoh yang
tidak mengenal Rabbnya. Allah sudah mengatur segalanya untuk kita kenapa kita
harus mengadakan tuhan-tuhan selain Allah SWT. Satu kata buat aku BODOH. Kenapa kita harus pusing dengan hidup
ini. Intinya kita percaya aja 100%. Taqwa yang benar-benar taqwa.
Bisakah manusai akhir zaman ini
mempasrahkan segalanya pada Allah 100%. Mungkin, pasti ada tapi seperti pernyataan di atas
mungkin satu dari seratus. Percayalah Allah itu Maha Kaya, Maha Segalanya.
Minta apapun jangan nanggung- nanggung yang gede sekaliyan. Nah kalo kalian
masih ragu dengan pertanyaan macam ini “aku takut gak bisa, apa mungkin Allah
akan kabulin, rasanya gak mungkin deh, aku kan gak punya apa-apa apa mungkin
aku bisa melakukan itu” itu semua adalah kalimat yang salah. Benar-benar salah.
Kamu bilang gak punya apa-apa. Guys kalian punya Allah yang Maha Segalanya. Gimana
Allah akan mengabulkan doa kita. Kita aja ragu sama Allah. Intinya jangan ragu,
semuanya sudah dijamin Allah , seberat apapun masalahmu tenang aja ada Allah.
Bukan manusia yang meneyeselaiakan masalahku tapi Allah melalui wasilah (jalan) manusia.
Jadi yang ada diotak kalian yang pertama Allah, baru dunia dan seisinya.
Orang
kaya akan kalah dengan orang miskin yang punya Allah. Orang pintar akan kalah dengan
orang bodoh yang punya Allah. Tapi kalo orang pintar punya Allah tentu akan
mengalahkan orang bodoh yang sama-sama punya Allah. Itulah pentingnya kita
belajar. Sebuah kalimat yang teringat “pelajarilah yang sekiranya menurutmu
bermanfaat bagimu dengan serius.” Jangan pernah ragu sedikit pun sama Allah.
Jadi slow aja dalam menajalani hidup ini yang keras, maka permudahlah dengan
Allah, salah satu caranya dengan Al-Quran. Kalo kita punya Al-Quran kita bisa
apa aja, iya apa aja. Salah satu contoh dari ceritaku sendiri.
Ini
cerita waktu sidang. Jadi dulu jaman-jaman ngerjain skripsi aku iri banget
ngliat temen-temen yang udah pada sidang
dengan waktu kuliah 3.5 tahun aja. Dalam pikiranku mereka aja bisa masa aku gak
bisa. Sebenarnya pikiran kaya gini ada salah dan benarnya juga, salahnya kita
membiarkan pikiran kita terpacu pada
orang lain bukan pada diri sendiri, benarnya kita jadi lebih termotivasi buat lebih dari orang
lain. Tinggal pinter-pinter kita aja buat manage spirit dan psikologis kita. Dai
rasa keirian itulah semangatku membara. Sebenernya dah lama aku ngajuin judul
tapi selalu ditolak, sampai yang kedua belas kalinya, iya DUA BELAS KALI,
akhirnya di acc sama dosen yang luar biasa killer. Alhamdulillah banyak
teman-teman yang support dan bantu, hingga satu bulan terselesaikan sampai
kesimpulan. Tidak semudah yang dibayangkan, karena aku tinggal di asrama, jadi
air dan listrik sudah menjadi makanan sehari-hari. Kebetulan bukan kebetulan
si, takdir Allah selama sebulan itu listrik dan air mati, mau nangis jelas, mau
menyalahkan keadaan yaa sudah, dulu belum tau apa si itu tawakal, apa si
pasrah, dah yang aku tau berusaha sekuat tenaga. Dan Alhamdulillah Allah
menganugerahi aku semacam watak atau apalah itu, jadi kalo aku punya ke inginan aku akan berusaha terus
sampai minimal usahaku udah maksimal lah, dan maksimalnya impianku tercapai.
Dikampusku
ada peraturan kalo bimbingan belum genap tiga bulan mahasiswa tidak boleh
sidang meskipun sudah selesai skripsi. Dan tebak, dosen ku belum Acc aku buat
sidang dengan berbagai macam alasan dan kesibukan beliau. Akhirnya aku nekat
aja buat daftar sidang meskipun belum dapet Acc. Tapi aku yakin 100% aku akan
sidang diangkatan kedua bagaimanapun caranya. Aku yakinkan pada akademik kalo
aku bakal dapat Acc sidang sama dosbingku sabtu besok, karena jumatnya adalah
pendaftaran dan senin terakhir untuk melengkapi berkas-berkas. Dan hari
minggunya aku kerumah dosen sendiri dengan penuh harapan bakal di acc. Setelah perdebatan
yang panjang akhirnya dapet acc, tapi permasalah belum selesai kepala akademiku
tidak menginzinkan untuk sidang karena belum genap tiga bulan. Intinya setelah
perjalanan yang begitu menegangkan dan berliku sampai aku berdebat dengan
kepala prodi dan akademik akhirnya dapet acc. Dan sidanglah aku. Teman-temanku
kaget semua. Karena mereka mengira aku masih belum ngapa-ngapain ehh ternyata
aku menusuk mereka dari belakang, bukan menusuk sii, menyemangati aja
temen-temen buat jangan nyerah, tenang semua prosedur manusia akan kalah dengan
prosedur Allah. Percayakan dengan kebesaran Allah.
Setiap
dari kita diberi kesempatan oleh tuhan untuk mengisi hidup dengan semua hal. Mau
kita isi dengan tidur, makan,sampai mati boleh, Allah gak akan rugi sedikitpun.
“sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain”. Nah pikirkan
baik-baik sabda Nabi Muhammad SAW tersebut, laki-laki yang tidak berbicara
dengan hawa nafsunya. Intinya kalo kita bisa berbagi atau bermanfaat pada orang
lain Allah akan menurunkan ketenangan
dan kesenangan untuk kita. Aku pernah membaca hidup itu hanya sabar. Sabar
menghadapi masalah, sabar menunggu doa kita terkabul. Sekian semoga bisa
bermanfaat bagi kalian, sebenernya pengin nulis ala-ala sastra tapi susah
karena terbawa suasana hhehee, apabila ada kritik dan saran silahkan… ^_^
Komentar
Posting Komentar